Takalar, 30 Desember 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Seorang warga Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, berinisial SR , mengaku menjadi korban dugaan penipuan yang melibatkan oknum anggota Kepolisian Resor (Polres) Takalar. Oknum tersebut diduga menjanjikan janji adik korban dalam proses seleksi penerimaan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dengan imbalan sejumlah uang bernilai fantastis.
Dalam keterangannya kepada awak media, SR menyebut oknum polisi tersebut berinisial IWT , berpangkat Ajun Inspektur Dua (Aipda) . Ia mengungkapkan bahwa total dana yang diserahkan kepada pelaku tak terduga mencapai Rp675 juta , baik dalam bentuk uang tunai maupun transfer perbankan.
“Total keseluruhan dana yang kami serahkan sebesar Rp675 juta, sebagian diberikan secara tunai dan sebagian lainnya melalui transfer,” ujar SR saat ditemui di kediamannya di Galesong Utara, Senin (29/12/2025).
SR menjelaskan, awal mula dirinya mengenal Aipda IWT adalah melalui perantara seorang anggota polisi lain yang bertugas di Polsek Galesong Utara . Dari perkenalan tersebut, terjadi komunikasi intensif yang berujung pada sejumlah pertemuan dan pembicaraan terkait proses penerimaan anggota Polri.
Pada tanggal 19 Maret 2025 , SR mengaku menyerahkan uang sebesar Rp250 juta kepada Aipda IWT. Menurut keterangan yang diterimanya, uang tersebut disebut-sebut sebagai biaya untuk memperoleh “kuota” agar adiknya dapat diloloskan dalam seleksi.
“Dia menyampaikan bahwa Rp250 juta itu untuk mendapatkan kuota khusus,” tutur SR sambil menampilkan dokumentasi foto penyerahan uang tersebut.
Penyerahan dana dilakukan di rumah SR dan disaksikan secara langsung oleh sejumlah anggota keluarga, sehingga menurutnya proses tersebut berlangsung secara terbuka dan tanpa paksaan.
Seiring berjalannya tahapan seleksi, SR mengungkapkan bahwa Aipda IWT kembali meminta tambahan dana dengan berbagai alasan. Ia menyebutkan diminta membayar Rp90 juta untuk keperluan tes psikologi dan Rp50 juta untuk tes kesehatan jasmani.
Tidak hanya itu, Aipda IWT juga beberapa kali meminta uang tambahan yang disebut sebagai permintaan dari pihak yang diklaimnya sebagai ajudan .
“Dia tidak pernah menjelaskan secara rinci siapa ajudan yang dimaksud, baik nama, foto, maupun atasan dari ajudan tersebut,” ungkap SR.
SR menuturkan bahwa gagal melakukan sekitar 10 kali transfer ke rekening Aipda IWT yang disebut-sebut untuk keperluan ajudan tersebut. Total dana yang ditransfer untuk keperluan itu mencapai Rp155 juta .
Namun, meskipun telah menyerahkan dana dalam jumlah besar, harapan SR pupus setelah pengumuman hasil perengkingan menuju pemeriksaan kesehatan tahap dua yang diumumkan pada 28 Mei 2025 . Dalam pengumuman tersebut, adik SR dinyatakan tidak lolos seleksi.
Menurut SR, tak lama setelah pengumuman tersebut, Aipda IWT langsung mendatangi rumahnya untuk memberikan klarifikasi.
“Dia mengatakan bahwa tahun ini kuotanya kurang,” kata SR menirukan penjelasan Aipda IWT.
Meski demikian, Aipda IWT kembali memberikan janji baru dengan menyatakan mampu meloloskan adik SR melalui jalur kuota khusus , disertai dengan permintaan tambahan dana.
Kasus dugaan penipuan ini pun kini menjadi perhatian publik, khususnya terkait integritas proses penerimaan anggota Polri dan dugaan yang sah oleh oknum aparat penegak hukum.
[RED]













