MAKASSAR, 12 Oktober 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Aksi penipuan berkedok kemanusiaan kembali mencoreng wajah solidaritas sosial di Kota Makassar. Sekelompok orang yang mengaku sebagai relawan penggalang donasi diamankan oleh petugas Dinas Sosial (Dinsos) Makassar setelah terbukti mengumpulkan sumbangan untuk kasus anak sakit yang ternyata fiktif.
Para pelaku diketahui telah beroperasi selama dua tahun di sejumlah titik strategis, terutama di perempatan lampu merah dan ruas jalan utama di Kota Makassar. Modus mereka terbilang klasik namun efektif, memegang papan bergambar anak kecil yang disebut sedang sakit parah sambil meminta donasi dari para pengendara dan warga yang melintas.
Namun, kebohongan itu akhirnya terbongkar. Dalam operasi penertiban yang digelar oleh Tim Rehabilitasi Sosial (Resos) Dinsos Makassar di kawasan Jalan Masjid Raya, Kamis (2/10/2025), para relawan palsu tersebut berhasil diamankan dan langsung diserahkan ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Makassar untuk proses hukum lebih lanjut.
“Setelah kita lakukan penelusuran, anak yang gambarnya digunakan untuk menggalang dana itu sudah lama sembuh dan tidak lagi membutuhkan bantuan. Jadi seluruh narasi yang mereka sampaikan kepada masyarakat itu fiktif dan menyesatkan,” ungkap Kepala Dinas Sosial Makassar, Andi Bukti Djufrie, Rabu (8/10/2025).
Andi menjelaskan, penangkapan tersebut merupakan hasil dari penjangkauan intensif tim Resos yang selama ini memonitor aktivitas penggalangan dana di jalanan. Saat dicurigai adanya ketidaksesuaian data antara poster donasi dan kondisi anak yang ditampilkan, petugas langsung melakukan tindakan.
“Teman-teman dari tim Resos melakukan pemantauan dan penangkapan di lapangan. Setelah diamankan, mereka kami serahkan ke Satpol PP untuk pemeriksaan awal, kemudian dilimpahkan ke pihak kepolisian agar diproses sesuai aturan,” tambahnya.
Menurut Andi, perbuatan para pelaku bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap kegiatan sosial yang benar-benar tulus. Ia menegaskan, Dinsos tidak akan menoleransi segala bentuk eksploitasi kemanusiaan untuk keuntungan pribadi.
“Ini termasuk bentuk pembohongan publik dan penipuan berkedok sosial. Kita ingin masyarakat sadar bahwa tidak semua penggalangan dana di jalanan itu resmi. Ada banyak yang memanfaatkan simpati publik untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Dinas Sosial Makassar kini tengah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk mengembangkan penyelidikan, termasuk mendalami kemungkinan bahwa kelompok ini merupakan bagian dari jaringan penggalangan dana ilegal antar daerah.
Selain itu, Dinsos juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam menyalurkan bantuan, serta memprioritaskan donasi melalui lembaga resmi yang memiliki izin operasional dan transparansi penggunaan dana.
“Kami minta warga Makassar agar menyalurkan bantuan lewat kanal resmi seperti lembaga sosial terdaftar, yayasan kemanusiaan berizin, atau platform digital yang terverifikasi. Jangan mudah tergiur oleh narasi kasihan tanpa memastikan kebenaran informasinya,” tutup Andi.
Kasus ini menambah daftar panjang modus penipuan berkedok kemanusiaan yang terjadi di Indonesia. Di banyak kota besar, praktik serupa kerap memanfaatkan foto-foto lama, data medis palsu, atau kisah sedih fiktif untuk mengundang simpati publik. Pemerintah daerah pun kini semakin gencar menertibkan aktivitas penggalangan dana liar di ruang publik.
[RED]













