OPERASI PABRIK PT SEMEN GRESIK DI GUNEM REMBANG TERHENTI MULAI 2 JUNI 2025 AKIBAT BLOKADE Akses Jalan oleh PEMDES TEGALDOWO

OPERASI PABRIK PT SEMEN GRESIK DI GUNEM REMBANG TERHENTI MULAI 2 JUNI 2025 AKIBAT BLOKADE Akses Jalan oleh PEMDES TEGALDOWO
banner 120x600

Rembang, 8 JUNI 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS

Kegiatan produksi di pabrik PT Semen Gresik yang berlokasi di Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, secara resmi berhenti beroperasi mulai tanggal 2 Juni 2025. Penyebab penghentian bukan karena kendala teknis mesin atau fasilitas, melainkan akibat dari penutupan akses jalan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Tegaldowo yang memblokade jalan utama menuju lokasi tambang.

crossorigin="anonymous">

Penutupan jalur ini berdasar pada sertifikat kepemilikan tanah yang sah milik Pemdes Tegaldowo, sehingga menyebabkan terhambatnya pergerakan kendaraan pengangkut material tambang. Akibatnya, ratusan karyawan perusahaan semen tersebut terpaksa dirumahkan sementara waktu.

“Blokade jalan tersebut menghalangi aktivitas operasional distribusi, khususnya bagi armada truk besar milik PT Semen Gresik yang membawa bahan tambang sehingga tidak dapat melintas dan menjalankan tugasnya,” ungkap salah satu sumber dari perusahaan.

Gangguan akses ini secara langsung berdampak pada produktivitas dan rantai pasok perusahaan yang mengakibatkan terjadinya penghentian aktivitas operasional. Tidak hanya itu, dampak sosial ekonomi pun meluas karena sebagian besar karyawan adalah penduduk dari desa sekitar, termasuk Tegaldowo.

Mengutip laporan dari muria.suaramerdeka.com, total jumlah pekerja yang terkena dampak dari Desa Tegaldowo mencapai 103 orang.

Kepala Desa Tegaldowo, Kundari, memberikan rincian terkait jumlah tenaga kerja terdampak:

  • 85 karyawan bekerja di PT SMOR
  • 4 tenaga kerja di PT Swabina
  • 14 petugas keamanan yang juga berasal dari Desa Tegaldowo.

Menurut Kundari, angka tersebut belum termasuk pekerja dari desa lain yang berada di sekitar seperti Kadiwono, Timbrangan, Kajar, dan Suntri, yang juga mengalami dampak serupa.

Para pekerja ini semua mengalami penghentian sementara aktivitas kerja yang berlaku efektif sejak 1 Juni 2025 dan diperkirakan berlangsung selama satu bulan ke depan, tergantung dari penyelesaian persoalan akses jalan.

“Kami berharap persoalan blokade ini dapat segera diselesaikan agar aktivitas pabrik bisa kembali normal dan para pekerja bisa kembali bekerja, mengingat banyak yang menggantungkan penghasilan untuk kebutuhan keluarga,” tutur Kepala Desa Tegaldowo.

Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena berdampak tidak hanya pada aspek ekonomi perusahaan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat lokal yang sangat bergantung pada pekerjaan di sektor industri pertambangan dan semen.

[RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0