Solo, Jawa Tengah, 25 Mei 2025 — RESKRIMPOLDA.NEWS
Rumah makan legendaris di Kota Solo, Ayam Goreng Widuran, kini tengah menjadi pusat perhatian publik setelah muncul kabar bahwa sebagian menunya ternyata bersifat nonhalal. Informasi ini memicu keresahan di kalangan konsumen, khususnya pelanggan muslim yang merasa dirugikan karena tidak mengetahui sejak awal bahwa ada unsur nonhalal pada menu yang mereka konsumsi.
Lokasi dan Sejarah Singkat
Ayam Goreng Widuran berlokasi di Jalan Sultan Syahrir, Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Solo. Berdiri sejak tahun 1973, rumah makan ini dikenal luas sebagai salah satu ikon kuliner lawas di kota Bengawan dan telah melayani berbagai kalangan pelanggan selama lebih dari lima dekade.
Munculnya Polemik
Belakangan ini, Ayam Goreng Widuran mendadak ramai diperbincangkan di media sosial dan kolom ulasan daring, terutama di Google Review, menyusul laporan dari sejumlah pelanggan yang kecewa. Mereka mengaku baru mengetahui bahwa salah satu menu populer di tempat ini, yakni kremes ayam goreng, mengandung unsur nonhalal setelah kabar tersebut viral di berbagai platform digital.
Kekecewaan itu tercermin dari banyaknya pengguna yang memberikan rating bintang satu, menyatakan rasa sesal karena telah terlanjur menyantap makanan di sana tanpa informasi yang memadai mengenai status halal-menunya.
Pihak Manajemen Buka Suara
Menanggapi polemik yang merebak, pihak pengelola melalui salah satu stafnya, Ranto, memberikan klarifikasi resmi. Saat diwawancarai, Ranto menjelaskan bahwa pemberian informasi nonhalal pada menu baru dilakukan setelah mencuatnya komplain dari konsumen.
“Keterangan nonhalal memang sudah diberikan, tapi baru kami pertegas setelah kasus ini viral beberapa hari lalu. Kremes ayam goreng yang ramai disebut itu yang nonhalal,” jelas Ranto, Sabtu, 24 Mei 2025.
Ranto menambahkan, saat ini pihak manajemen telah memasang penanda keterangan nonhalal di seluruh outlet, termasuk di akun media sosial resmi seperti Instagram, dan juga di laman Google Maps. “Reklame sudah kami pasang, di Instagram juga sudah diinfokan. Baru setelah ramai ini diperjelas lagi,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa mayoritas pelanggan Ayam Goreng Widuran sejak awal berdirinya memang berasal dari kalangan nonmuslim. Namun demikian, pihak manajemen tetap menyampaikan permohonan maaf kepada publik, terutama kepada pelanggan muslim yang merasa kurang mendapat informasi jelas terkait status menu.
Permintaan Maaf dan Komitmen Manajemen
Melalui unggahan resmi di media sosial, manajemen Ayam Goreng Widuran menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Mereka memastikan komitmen untuk memberikan transparansi informasi secara lengkap dan terbuka kepada seluruh konsumen, demi mencegah terulangnya kesalahpahaman di masa mendatang.













