Indramayu, 23 September 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Kerusakan jalan di Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kembali menjadi sorotan warga setempat. Alat berat jenis excavator (beko) diduga menjadi biang kerok utama yang merusak infrastruktur vital ini, memicu kemarahan masyarakat yang sudah lelah dengan kondisi jalan rusak parah.
Insiden ini bukan yang pertama, dan kini warga menuntut tindakan tegas dari pemerintah daerah untuk mencegah kerugian lebih lanjut.
Warga Desa Cemara Kulon yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keluhannya secara terbuka kepada awak media. Senin 22 September 2025.
“Pak Kuwu, jalan kena beko pada rusak, Pak Kuwu! Lihat jalan sampai kaya gini,” ujarnya dengan nada geram sambil menunjukkan permukaan jalan yang retak-retak dan berlubang.
Keluhan ini disampaikan di lokasi kejadian, di mana alat berat (excavator) meninggalkan tapak jelas yang merusak cor beton jalan desa.
Keluhan warga ini diabadikan melalui video pendek menggunakan ponsel, yang kini menjadi bukti nyata atas kelalaian yang terjadi.
Video tersebut menunjukkan kondisi jalan yang sudah dicor beton baru-baru ini, kini berubah menjadi seperti medan perang dengan tapak bekho yang dalam dan pinggiran jalan yang gompal alias amblas. “Ini bukan cuma rusak, tapi bahaya buat anak-anak dan pengendara,” tambahnya.
Menurutnya, peristiwa ini bukan hanya sekali. Jalan desa sudah dua kali dilintasi alat berat beko untuk kepentingan proyek, sehingga kerusakan semakin parah. “Bukan pertama kali, ini sudah kedua kalinya. Kalau terus dibiarkan, jalan bisa hancur total,” keluhnya.
Warga juga menyoroti dugaan adanya pihak luar yang memanfaatkan akses jalan desa demi kepentingan proyek. Salah satunya terkait distribusi solar yang disebut-sebut dikendalikan diduga oleh Karang Taruna setempat. “Kalau soal solar, yang mengesub kabarnya dari Karang Taruna,” ungkap warga tersebut.
Warga setempat menegaskan bahwa pemerintah desa dan dinas terkait di Kabupaten Indramayu tidak boleh tinggal diam. “Kalau jalan rusak begini, ekonomi desa ikut terpuruk. Kami minta perhatian serius dari aparat desa dan Kecamatan maupun kabupaten,” tegasnya
Warga menekankan perlunya solusi jangka panjang, bukan hanya tambal sulam. Jalan yang sudah rusak parah harus diperbaiki dengan konstruksi yang lebih kuat agar tidak kembali hancur ketika dilalui kendaraan berat.
Hingga kini, pihak pemerintah desa Cemara Kulon maupun Kecamatan Losarang belum memberikan keterangan resmi terkait kerusakan jalan tersebut. Masyarakat masih menunggu langkah konkret dari Kuwu selaku pemimpin desa untuk menyelesaikan persoalan ini.
Kasus di Cemara Kulon mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap penggunaan jalan desa dalam kegiatan proyek. Tanpa regulasi yang jelas, masyarakat kecil sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan.
Kerusakan jalan juga berpotensi memicu masalah sosial baru. Selain menurunnya produktivitas ekonomi, keluhan warga bisa berkembang menjadi konflik horizontal jika tidak segera diatasi.
Masyarakat berharap adanya koordinasi cepat antara pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten untuk menindaklanjuti persoalan ini. Mereka mendesak agar jalan segera diperbaiki serta dibuat aturan tegas terkait penggunaan alat berat di kawasan pedesaan.
Warga kini menanti bukti nyata dari pemerintah, bukan sekadar janji perbaikan. Jalan desa adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Tanpa jalan yang layak, kemajuan dan kesejahteraan Desa Cemara Kulon akan semakin sulit terwujud.
[RED – NONO]













