Jakarta, 7 April 2026 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Indonesia mulai menunjukkan keseriusan dalam mempersiapkan implementasi teknologi komunikasi generasi keenam (6G) dengan fokus pengembangan riset pada antena berperforma tinggi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam menghadapi transformasi digital yang semakin kompleks di masa mendatang.
Salah satu pendekatan yang saat ini intensif dikaji adalah penggunaan antena mikrostrip multilayer. Teknologi ini dinilai memiliki keunggulan dalam meningkatkan penguatan (penguatan sinyal) serta mengendalikan pola radiasi, sehingga mampu menunjang kebutuhan komunikasi berkecepatan tinggi. Namun demikian, penerapannya juga menghadirkan tantangan tersendiri, khususnya dalam hal integrasi dengan sistem elektronik modern yang semakin kompleks.
Riset yang dikembangkan mencakup berbagai jenis antena mikrostrip, baik multilayer maupun single-layer. Masing-masing desain memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri, tergantung pada parameter yang ingin dioptimalkan, seperti efisiensi, ukuran, maupun kestabilan sinyal.
Peneliti Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yohanes Galih Adhiyoga, menjelaskan bahwa antena mikrostrip multilayer menjadi salah satu fokus utama karena kemampuannya dalam meningkatkan kinerja sistem komunikasi generasi terbaru.
“Teknologi ini mampu meningkatkan gain serta mengontrol pola sinyal radiasi, meskipun memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, terutama dalam proses integrasi dengan perangkat elektronik modern,” jelas Yohanes.
Kompleksitas tersebut semakin meningkat seiring dengan berkembangnya perangkat modern seperti smartphone, yang menggabungkan berbagai fungsi komunikasi dalam satu sistem terpadu. Antena dituntut untuk tetap bekerja secara optimal tanpa menimbulkan interferensi maupun gangguan oleh komponen lain di dalam perangkat.
Dalam rangka mempercepat kesiapan menuju era 6G, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama BRIN telah melakukan berbagai langkah strategi. Upaya tersebut meliputi penelitian spektrum frekuensi tinggi, termasuk pita terahertz, pengujian prototipe jaringan di sejumlah lokasi, serta penyusunan regulasi pendukung.
Selain itu, kolaborasi antara lembaga riset, operator telekomunikasi, dan sektor industri juga terus diperkuat guna menciptakan ekosistem teknologi yang siap menghadapi implementasi 6G.
Secara global, teknologi 6G diproyeksikan mulai diimplementasikan pada sekitar tahun 2030, dengan fase pengembangan spesifikasi teknis berlangsung pada periode 2025 hingga 2029. Teknologi ini diharapkan mampu menghadirkan kecepatan transmisi data yang jauh melampaui 5G, sekaligus membuka peluang baru dalam berbagai sektor, termasuk industri, kesehatan, hingga kecerdasan buatan.
Langkah progresif Indonesia dalam mengembangkan teknologi antena 6G menjadi indikator kuatnya kesiapan nasional dalam menyongsong era komunikasi masa depan yang lebih cepat, cerdas, dan terintegrasi.
[RED]













