Ketua Umum JMSI Desak Polri Ungkap Dalang Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

banner 120x600

JAKARTA, 15 Maret 2026 – RESKRIMPOLDA.NEWS

Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) , Teguh Santosa , mengecam aksi keras penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus . Ia menilai peristiwa tersebut bukan sekedar tindak kriminal biasa, melainkan serangan serius terhadap nilai demokrasi dan penegakan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia .

crossorigin="anonymous">

Menurut Teguh, para aktivis HAM menjalankan tugas yang berhubungan langsung dengan kepentingan publik dan negara . Oleh karena itu, teror atau kekerasan yang menyasar mereka sama dengan ancaman terhadap prinsip demokrasi yang dijamin oleh konstitusi .

“Tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dari KontraS merupakan serangan terhadap demokrasi itu sendiri. Aktivis HAM bekerja demi kepentingan rakyat dan negara, karena penegakan HAM serta demokrasi merupakan amanat konstitusi,” ujar Teguh Santosa dalam keterangannya, Sabtu (14/3/2026).

Kekerasan terhadap Aktivis Tidak Dapat Dibenarkan

Teguh menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi, setiap pihak wajib menjunjung tinggi sikap saling menghormati , termasuk ketika terjadi perbedaan pandangan maupun kritik terhadap kebijakan tertentu.

Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap aktivisme demokrasi dan pembelaan HAM tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun .

“Menyerang aktivisme demokrasi dan HAM, meskipun ada perbedaan pendapat, tetap tidak dapat dibenarkan. Dalam demokrasi setiap orang harus berpegang pada prinsip menghargai perbedaan serta keragaman, karena semua pihak bekerja untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa demokrasi hanya dapat berjalan sehat apabila kebebasan sipil, termasuk kebebasan menyampaikan kritik dan pendapat , serta mendapatkan perlindungan penuh dari negara.

Minta Polisi Ungkap Aktor Intelektual

Lebih lanjut, Teguh meminta aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Republik Indonesia (Polri) , untuk mengusut tuntas kasus tersebut hingga menemukan pelaku utama, motif, serta pihak yang diduga menjadi dalang di balik serangan tersebut .

“Saya meminta aparat penegak hukum, khususnya Polri, memastikan pengusutan tuntas hingga aktor intelektual, bukan hanya pelaku penyerangan di lapangan,” katanya.

Ia menilai pola penyerangan yang terjadi menunjukkan adanya perencanaan yang diselenggarakan , sehingga proses penyelidikan tidak boleh berhenti pada eksekutor semata.

“Pola serangan yang dilakukan tampaknya terencana dan terorganisasi. Oleh karena itu, penyebaran kasus ini tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan, tetapi juga harus menyingkap pihak yang diduga menjadi aktor intelektual di balik peristiwa tersebut,” tambahnya.

Teguh juga menyampaikan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian terkait penanganan kasus tersebut dan berharap proses penyelidikan berjalan cepat, transparan, dan akuntabel sehingga memberikan kepastian hukum bagi publik.

Kronologi Penyerangan

Berdasarkan kronologi yang dihimpun KontraS , beberapa hari sebelum kejadian Andrie Yunus menerima sejumlah panggilan dari nomor tidak dikenal pada periode 9 hingga 12 Maret 2026 . Sebagian besar nomor tersebut diduga terkait dengan penipuan spam, penawaran pinjaman online, hingga modus layanan m-banking .

Pada hari kejadian, Andrie beraktivitas seperti biasa. Sekitar pukul 15.30 WIB , ia berangkat dari kantor KontraS menuju kantor Center of Economic and Law Studies (CELIOS) di kawasan Menteng untuk menghadiri sebuah pertemuan.

Usai agenda tersebut, sekitar pukul 19.45 WIB , Andrie melanjutkan kegiatan ke kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jalan Diponegoro, Menteng , guna melakukan perekaman podcast bersama staf YLBHI, Zainal Arifin . Diskusi yang direkam mengangkat tema “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI.”

Perekaman siniar tersebut selesai sekitar pukul 20.00 WIB . Namun Andrie masih berada di kantor YLBHI hingga sekitar pukul 23.00 WIB sebelum akhirnya pulang menggunakan sepeda motor setelah sempat mengisi bahan bakar di SPBU Cikini .

Sekitar pukul 23.37 WIB , saat melintas di Jalan Salemba I , Andrie yang mengendarai sepeda motor Yamaha Aerox berwarna kuning melihat sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang melawan arah di kawasan Talang.

Kendaraan tersebut diduga Honda Beat atau Honda Vario model lama berwarna hitam dengan panel putih di bagian belakang . Ketika kedua kendaraan berpapasan, salah satu pelaku langsung menyiram cairan yang diduga air keras ke arah korban.

Cairan tersebut mengenai bagian kanan tubuh Andrie , terutama mata, wajah, dada, serta tangan . Korban spontan berteriak kesakitan hingga menghentikan kendaraannya dan terjatuh di lokasi.

Menurut keterangan KontraS, Andrie sempat berteriak meminta bantuan sambil berteriak, “AAAH, AAHH, PANAS… PANAS! AIR KERAS, AIR KERAS!” sehingga menarik perhatian warga sekitar yang kemudian datangan.

Cairan tersebut bahkan menyebabkan pakaian korban meleleh akibat reaksi kimia . Dalam kondisi menahan rasa sakit, Andrie sempat mengambil sepeda motor serta tasnya sebelum meninggalkan pakaian yang rusak di lokasi kejadian. Sementara para pelaku langsung melarikan diri menuju Jalan Salemba Raya .

Saat melarikan diri, pelaku diduga menjatuhkan sebuah gelas berbahan stainless steel yang diduga digunakan sebagai wadah cairan tersebut.

Korban Dirawat Intensif di RSCM

Tak lama setelah kejadian, sekitar pukul 23.38 WIB , Andrie kembali mengendarai sepeda motornya menuju rumah kontrakan di kawasan Menteng melalui jalur belakang.

Dua rekannya, Rizky dan Hardingga , kemudian membawa korban ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menggunakan sepeda motor. Korban tiba di rumah sakit pukul 23.48 WIB dan langsung mendapatkan penanganan medis darurat.

Berdasarkan diagnosa awal tim dokter , Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada tubuhnya. Saat ini ia menjalani perawatan intensif yang ditangani oleh enam dokter spesialis , meliputi spesialis mata, THT, saraf, tulang, thoraks, penyakit dalam, serta kulit.

Korban juga diadakan menjalani tindakan operasi mata berupa transplantasi membran amnion guna memperbaiki jaringan mata yang mengalami kerusakan.

Perwakilan KontraS, Dimas , memastikan bahwa tidak ada barang milik korban yang hilang dalam peristiwa tersebut. Oleh karena itu, mendesak aparat kepolisian segera mengungkap pelaku serta motif penyerangan terhadap aktivis HAM tersebut.

“Serangan ini berpotensi menjadi ancaman serius terhadap keselamatan para pembela hak asasi manusia di Indonesia,” tutupnya.

[RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0