Sukabumi, 22 Februari 2026 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Kematian NS (13), siswa SMP asal Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi perhatian luas publik setelah foto dan video yang menampilkan kondisi tubuh korban dengan luka melepuh beredar di media sosial. Peredaran konten tersebut memicu beragam spekulasi, termasuk dugaan adanya pelanggaran.
Menangapi tudingan tersebut, ibu tiri korban, TR (47), akhirnya menyampaikan klarifikasi kepada publik. Ia dengan tegas menyatakan adanya kekerasan terhadap NS dan menegaskan bahwa luka pada tubuh korban berkaitan dengan penyakit serius yang dideritanya.
“Kalaupun ada kulit yang melepuh, itu akibat panas dalam darah karena kanker yang dideritanya,” ujar TR, Sabtu (21/2/2026). Ia juga menyebut, berdasarkan keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), korban didiagnosis menderita leukemia autoimun.
TR menambahkan, pada Kamis pagi korban sempat dibawa ke RSUD Jampangkulon bersama ayah kandungnya untuk mendapatkan penanganan medis. Ia membantah tuduhan penelantaran terhadap anak tersebut.
“Kebetulan yang mendampingi almarhum adalah bapaknya, sementara saya sedang mengurus di bagian pendaftaran,” katanya, seraya mengaku tidak mengetahui secara rinci penjelasan dokter terkait kondisi medis korban.
Ayah Korban Sebut Pernah Terjadi Kekerasan
Di sisi lain, ayah korban, AS, mengungkapkan bahwa dugaan kekerasan terhadap NS bukan kali pertama disebutkan. Ia menyatakan bahwa saat NS masih duduk di kelas 6 SD, TR diduga pernah melakukan kehadiran terhadap anak tersebut.
AS mengaku sempat melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian. Namun, perkara tersebut akhirnya diselesaikan melalui jalur damai setelah TR mengakui perbuatannya dan berjanji untuk berubah. Meski demikian, AS menuturkan bahwa hingga belakangan ini dugaan kekerasan terhadap NS masih sering terjadi.
Polisi Dalami Kasus Secara Ilmiah dan Profesional
Sementara itu, Kepolisian Resor Sukabumi memastikan proses penyelidikan atas kematiannya NS masih berlangsung intensif. Aparat kepolisian terus mengumpulkan keterangan dan bukti untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik luka-luka yang dialami korban.
Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara profesional, objektif, dan penuh kehati-hatian. Ia mengungkapkan bahwa penyidik tidak hanya mengandalkan bukti, tetapi juga bukti medis yang sahih.
“Saat ini total 16 Saksi telah kami mintai keterangan secara mendalam. Saksi-saksi tersebut mencakup keluarga, pihak yang melihat kondisi tempat kejadian, hingga Saksi ahli dari tenaga medis atau dokter yang menangani korban,” ungkap AKBP Samian dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (21/2/2026) malam.
Samian menekankan bahwa peneliti mengedepankan pendekatan pembuktian ilmiah sebelum menarik kesimpulan hukum.
“Kami tidak ingin berspekulasi. Setiap keterangan saksi akan kami kroscek secara teliti dengan hasil visum dan otopsi untuk memastikan apakah luka-luka tersebut sesuai dengan dugaan tindak pidana yang dilaporkan,” tegasnya.
Hasil Visum Temukan Beragam Luka
Berdasarkan data sementara, hasil pemeriksaan luar jenazah menunjukkan kondisi korban yang memprihatinkan. Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono memaparkan adanya berbagai jenis luka di hampir seluruh bagian tubuh korban, mulai dari wajah hingga kaki.
“Hasil visum menunjukkan adanya luka lecet di beberapa bagian wajah, leher, hingga anggota gerak. Selain itu, ditemukan luka bakar derajat 2A di sejumlah titik tubuh serta lebam merah keunguan yang mengindikasikan adanya trauma tumpul,” jelas Hartono.
Selain itu, sejumlah saksi dari kalangan medis, termasuk dokter dari puskesmas dan RSUD Jampangkulon, telah dimintai keterangan untuk menjelaskan kondisi awal korban saat pertama kali dibawa guna mendapatkan perawatan.
Hingga kini, kepolisian masih terus mengumpulkan bukti serta menyusun rangkaian fakta untuk memastikan penyebab pasti kematian NS, sekaligus menentukan ada atau tidaknya unsur pidana dalam peristiwa tersebut.
[RED – EXCEL]














