Tragedi Kemanusiaan di Ngada: Dugaan Bunuh Diri Bocah SD Soroti Kemiskinan Ekstrem dan Minimnya Perlindungan Anak

banner 120x600

Ngada, Nusa Tenggara Timur, 4 Februari — RESKRIMPOLDA.NEWS

Peristiwa meninggalnya seorang anak berinisal YBS (10) , siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang diduga mengakhiri hidupnya sendiri, menjadi tragedi kemanusiaan yang menggugah untuk menyelamatkan masyarakat . Kejadian tersebut mencerminkan dampak serius kemiskinan ekstrem, keterbatasan ekonomi keluarga, serta minimnya perlindungan dan pendampingan psikososial terhadap anak.

crossorigin="anonymous">

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, korban sempat meminta uang kepada ibunya, MGT (47) , untuk membeli perlengkapan sekolah berupa buku dan alat tulis dengan nilai kurang dari Rp10.000 . Namun, sang ibu menyampaikan bahwa keluarga tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Bagi keluarga korban, nominal tersebut bukanlah jumlah yang mudah dipenuhi. MGT diketahui bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan , serta berstatus sebagai janda yang menghidupi lima orang anak . Kondisi ekonomi yang sangat terbatas membuat keluarga harus melakukan berbagai upaya untuk bertahan hidup. Apalagi untuk meringankan beban keluarga, korban sempat diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana.

Tragedi tersebut terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026 , ketika YBS ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh , tidak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama sang nenek. Peristiwa ini meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Menanganggapi kejadian tersebut, Dosen Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang , RD Leonardus Mali , dalam keterangannya pada Selasa, 3 Februari 2026 , menyampaikan bahwa kemiskinan ekstrem kerap menghidupkan imajinasi, harapan, serta kegembiraan anak-anak sejak usia dini . Menurutnya, anak-anak yang hidup dalam kondisi parah kemiskinan sering kali kehilangan orientasi tujuan hidup.

Ia juga menyoroti bahwa anak-anak yang tergolong cerdas namun hidup dalam keterbatasan ekonomi memiliki risiko lebih besar terpapar informasi yang tidak tersaring, khususnya melalui media sosial. “Dalam situasi seperti ini, anak dapat meniru perilaku yang mereka lihat atau konsumsi dari media sosial, termasuk keputusan ekstrem seperti bunuh diri,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPR RI asal Nusa Tenggara Timur , Andreas Hugo Pareira , menilai peristiwa ini sebagai peringatan keras bagi seluruh elemen masyarakat dan negara . Ia menegaskan bahwa kematian seorang anak akibat keputusasaan mencerminkan adanya kehilangan perhatian, kasih sayang, serta sistem perlindungan sosial yang belum berjalan optimal , baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.

Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi pemerintah, lembaga pendidikan, serta masyarakat dalam memperkuat perlindungan anak, penanggulangan kemiskinan ekstrem, dan pendampingan psikologis , khususnya bagi anak-anak yang hidup dalam kondisi sosial ekonomi rentan.

[RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0