Tegal, 26 Juli 2025 — RESKRIMPOLDA.NEWS
Kondisi darurat akibat kelangkaan pasokan air bersih dan potensi gagal panen massal memaksa Bupati Tegal, H. Ischak Maulana Rohman, turun langsung ke lapangan guna melihat secara langsung dampak krisis tersebut terhadap masyarakat. Kunjungan lapangan dilakukan pada Jumat (25 Juli 2025) di Kecamatan Lebaksiu dan Balapulang, dua wilayah yang paling terdampak akibat proyek pengerjaan revitalisasi Bendung Danawarih.
Warga desa serta komunitas petani lokal menyampaikan keluh kesah dan rasa cemas mereka kepada Bupati. Hal ini menyusul terhentinya aliran irigasi utama, yang selama ini menjadi tumpuan utama untuk pengairan lahan pertanian serta memenuhi kebutuhan air harian warga.
“Kami sudah satu bulan lebih kesulitan air, sawah-sawah mulai mengering, tanaman layu, dan masyarakat harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau begini terus, panen bisa gagal total,” ungkap seorang petani di Desa Kesuben, Lebaksiu.
Proyek revitalisasi Bendung Danawarih, yang sebenarnya bertujuan untuk memperkuat infrastruktur irigasi jangka panjang, justru memicu dampak sementara yang sangat berat bagi ribuan kepala keluarga. Minimnya informasi serta ketidaksiapan solusi alternatif selama proses pengerjaan membuat krisis semakin memburuk.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Ischak Maulana Rohman menyatakan keprihatinannya yang mendalam serta menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyalurkan bantuan tanggap darurat dan menyusun langkah cepat dalam mengatasi krisis air yang melanda.
“Kami tidak bisa tinggal diam. Hari ini juga kami koordinasikan dengan instansi terkait untuk memastikan distribusi air bersih ke desa-desa terdampak dan mempercepat penyelesaian pekerjaan bendung agar irigasi bisa segera normal,” tegas Bupati di sela kunjungannya.
Bupati juga menginstruksikan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal untuk melakukan pemetaan ulang wilayah rentan dan menyiapkan langkah adaptasi bagi petani, termasuk skema pengalihan masa tanam dan bantuan bibit jika diperlukan.
Sejumlah warga berharap pemerintah pusat dan daerah dapat memperhatikan dampak sosial proyek infrastruktur dan tidak hanya berfokus pada manfaat jangka panjang, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan hidup masyarakat selama masa pembangunan.
“Kami tidak menolak pembangunan. Tapi tolong juga pikirkan kami yang hidup dari tanah ini. Kami butuh air sekarang, bukan nanti,” ujar seorang tokoh masyarakat di Balapulang.
Situasi di lapangan masih terus dipantau, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan PDAM setempat tengah dikerahkan untuk melakukan pendistribusian air bersih melalui mobil tangki ke beberapa titik darurat.
[RED]













