SUBANG, 13 Juli 2025 — RESKRIMPOLDA.NEWS
Lonjakan jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Subang terus menjadi sorotan tajam. Hingga pertengahan tahun 2025, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 3.800 kasus infeksi HIV/AIDS telah terdeteksi, dengan kontribusi tertinggi berasal dari kelompok Pekerja Seks Komersial (PSK) dan komunitas Lelaki Seks Lelaki (LSL) alias gay.
Kepala Dinas Kesehatan Subang, dr. Maxi, mengungkapkan bahwa selain PSK, komunitas LSL menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam distribusi kasus HIV baru. Ia menyebut fenomena ini sebagai ancaman kesehatan masyarakat yang perlu ditangani secara lebih komprehensif.
“Sampai Juni 2025, tercatat ada 3.800 kasus HIV/AIDS di Subang. Mayoritas berasal dari PSK, namun yang mulai mengkhawatirkan adalah kelompok LSL atau homoseksual, kemudian juga komunitas transgender serta pengguna narkoba suntik,” jelas dr. Maxi dalam pernyataannya, Rabu (9/7/2025).
Berdasarkan data surveilans aktif yang dikumpulkan Dinkes Subang, jumlah anggota komunitas LSL yang berada di wilayah Subang diperkirakan mencapai 6.000 orang. Namun, hingga saat ini baru 1.098 orang dari kelompok tersebut yang berhasil dijangkau secara langsung dan masuk dalam data resmi dengan identitas lengkap (by name by address).
Dari total 1.098 yang terverifikasi, sebanyak 94 orang dinyatakan positif HIV/AIDS berdasarkan hasil uji laboratorium.
“Mereka umumnya berusia muda, yakni di bawah 30 tahun. Sebagian besar saat ini sudah menjalani terapi antiretroviral (ARV),” sambung dr. Maxi.
Kekhawatiran meningkat seiring temuan kasus yang semakin meluas ke populasi usia produktif dan minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya skrining dini serta edukasi perilaku seksual sehat.
Meski demikian, dr. Maxi menegaskan bahwa HIV/AIDS bukan penyakit yang mudah menular. Ia menepis stigma yang selama ini melekat, bahwa penderita HIV dapat menularkan virus hanya melalui interaksi sosial biasa.
“Perlu diluruskan, HIV/AIDS tidak menular melalui kontak non-intim seperti berjabat tangan, berbagi tempat duduk, ataupun memakai peralatan makan bersama. Penularan hanya terjadi lewat jalur darah, hubungan seksual tidak aman, dan penggunaan jarum suntik bersama,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Subang bersama Dinas Kesehatan terus menggiatkan kampanye pencegahan, edukasi, serta perluasan layanan tes HIV secara gratis dan rahasia. Pendekatan berbasis komunitas dan advokasi kelompok risiko tinggi turut digencarkan guna memutus rantai penularan.
[RED]













