PARIGI MOUTONG, SULTENG, 23 Juni 2025 — RESKRIMPOLDA.NEWS
Tragedi tanah longsor kembali merenggut korban jiwa. Sebanyak tujuh orang warga dinyatakan hilang dan diduga tertimbun material longsoran saat mereka tengah melakukan aktivitas pencarian kayu di kawasan perbukitan Desa Tirtanagaya, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Sabtu, 21 Juni 2025, sekitar pukul 17.00 WITA.
Bencana alam tersebut dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah pegunungan secara terus-menerus, mengakibatkan kontur tanah menjadi labil dan rentan bergeser. Lokasi kejadian berada di daerah yang cukup terpencil dan berbukit, dengan akses terbatas serta kondisi medan yang curam.
Menurut laporan resmi dari Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, hingga Minggu malam, 22 Juni 2025, ketujuh korban masih belum ditemukan. Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI-Polri, relawan, dan warga setempat, masih terus melakukan upaya pencarian dengan metode penyisiran manual dan alat pendeteksi suara serta sensor panas.
DAFTAR KORBAN YANG DINYATAKAN HILANG:
- Nama:Sahrat
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Usia: 43 tahun
- Agama: Islam
- Alamat: Desa Anutapura
- Nama:Subran
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Usia: 52 tahun
- Agama: Islam
- Alamat: Desa Anutapura
- Nama:Ijal
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Usia: 28 tahun
- Agama: Islam
- Alamat: Desa Anutapura
- Nama:Safrudin E. Manjalai
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Usia: 36 tahun
- Agama: Islam
- Pekerjaan: Petani
- Nama:Riska Jumi
- Jenis Kelamin: Perempuan
- Usia: 26 tahun
- Agama: Islam
- Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
- Nama:Arun
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Usia: 17 tahun
- Agama: Islam
- Pekerjaan: Belum bekerja
- Nama:Rapi
- Jenis Kelamin: Laki-laki
- Usia: 14 tahun
- Agama: Islam
- Pekerjaan: Belum bekerja
Pihak BPBD menghimbau masyarakat sekitar untuk menjauhi area rawan longsor, mengingat kondisi cuaca di wilayah tersebut masih berpotensi hujan sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan. Aparat setempat juga telah mendirikan posko tanggap darurat guna mempermudah koordinasi pencarian dan penanganan lanjutan.
Keluarga korban masih menanti dengan harapan besar, sementara para petugas dan relawan terus berjibaku dengan kondisi alam yang sulit demi menemukan para korban, baik dalam keadaan selamat maupun evakuasi jenazah.
[RED]













