KARAWANG, 23 Juni 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Dampak fenomena abrasi pantai di wilayah pesisir Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, terus menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Erosi garis pantai yang terjadi secara intens dalam beberapa pekan terakhir telah menggerus struktur tanah hingga mencapai jalan utama desa, menyebabkan kerusakan parah dan mengakibatkan akses vital tidak lagi dapat dilalui oleh kendaraan roda empat.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa lapisan tanah penyangga jalan telah runtuh, menyisakan jalur yang nyaris putus total, dengan beberapa titik terlihat longsor ke arah bibir pantai. Warga setempat menyebut kondisi ini sebagai yang terparah dalam satu dekade terakhir.
Mobilitas Warga Terganggu – Transportasi Terhambat
Akibat dari abrasi yang semakin meluas ini, masyarakat setempat kini harus mencari jalur alternatif dengan jarak tempuh lebih jauh untuk dapat mencapai pusat kecamatan atau pasar terdekat. Akses kendaraan logistik, ambulans, dan layanan publik lainnya juga mengalami hambatan signifikan.
“Sebelumnya masih bisa dilewati mobil kecil, sekarang sudah tidak bisa sama sekali. Roda dua pun harus hati-hati karena tanahnya sudah menggantung,” ujar Sariman (57), tokoh masyarakat Desa Pusakajaya Utara.
Ancaman Terhadap Permukiman dan Infrastruktur Lain
Selain memutus jalur utama, abrasi juga mengancam permukiman warga, fasilitas ibadah, dan jaringan irigasi yang berada tidak jauh dari area terdampak. Beberapa warga mengaku mulai mengungsi sementara ke rumah kerabat karena khawatir dengan keselamatan keluarga mereka.
Pihak pemerintah desa telah melaporkan kondisi ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, serta meminta perhatian dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk segera melakukan langkah darurat, seperti pembangunan tanggul sementara dan penguatan garis pantai.
Perlu Penanganan Serius dan Berkelanjutan
Para aktivis lingkungan mengingatkan bahwa abrasi di pesisir Karawang merupakan masalah struktural yang sudah berlangsung bertahun-tahun, namun penanganan masih bersifat sementara dan belum berkelanjutan. Mereka mendorong agar Pemprov Jawa Barat dan pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR segera menyusun program perlindungan pantai permanen, termasuk reboisasi mangrove dan pembangunan sabuk pantai berbasis ekosistem.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait waktu penanganan maupun rencana perbaikan infrastruktur jalan yang terdampak abrasi.
[RED]













