JAKARTA, 16 JUNI 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Jenderal (Purn) Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan keprihatinan dan sikap tegas terkait polemik pemindahan empat pulau dari wilayah administratif Provinsi Aceh ke Sumatera Utara. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi mencederai nilai-nilai luhur perdamaian Aceh, yang telah diperjuangkan melalui proses panjang dan penuh pengorbanan.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui video yang beredar pada Sabtu (15/6/2025), SBY mengingatkan pentingnya seluruh pemangku kebijakan nasional, termasuk Presiden terpilih Prabowo Subianto, untuk bertindak bijaksana dan mempertimbangkan aspek historis, kultural, serta psikologis masyarakat Aceh dalam setiap keputusan strategis.
“Saya mengimbau kepada para pemimpin bangsa, khususnya Bapak Prabowo Subianto, agar menjaga dan merawat warisan berharga berupa perdamaian Aceh. Jangan sampai keputusan administratif menciptakan luka baru bagi rakyat Aceh yang telah lama merasakan getirnya konflik,” ujar SBY.
Proses Damai Tak Instan: SBY Ingatkan Beratnya Jalan Menuju Helsinki
SBY menegaskan bahwa perdamaian Aceh tidak datang sekejap, melainkan merupakan hasil upaya diplomasi, negosiasi, dan ikhtiar spiritual selama lima tahun berturut-turut, yakni dari 2001 hingga 2005. Ia secara pribadi terlibat aktif dalam setiap tahap perundingan hingga akhirnya tercapai Nota Kesepahaman Damai Helsinki yang mengakhiri konflik bersenjata antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
“Saya hadir dan menjadi bagian dari perjuangan damai tersebut bersama para tokoh nasional dan lokal. Selama lima tahun penuh, saya tidak pernah absen memohon petunjuk kepada Allah, berdiskusi dengan para ulama, dan menjalin komunikasi lintas pihak. Proses ini sangat melelahkan, tapi mulia,” ungkapnya dengan suara yang sarat penghormatan.
Peringatan Kepada Generasi Kini: Warisan Damai Jangan Dikhianati
Lebih lanjut, SBY mengingatkan bahwa generasi pemimpin saat ini memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk melanjutkan semangat perdamaian Aceh. Ia juga mengenang jasa para ulama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat yang turut berkontribusi dalam menenun perdamaian, sebagian dari mereka kini telah wafat.
“Saya tahu para tokoh yang dulu mendampingi proses damai sebagian telah berpulang. Kini estafet tanggung jawab ada di pundak generasi penerus. Jangan sampai kita menjadi generasi yang mengabaikan makna dari pengorbanan itu semua,” tegasnya.
[RED]













