Sintang, Kalimantan Barat, 5 JUNI 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Sebuah insiden memilukan kembali menegaskan krisis infrastruktur di wilayah pedalaman Kalimantan Barat. Rahmudi Rahmad (37), warga Desa Tempunak, Kabupaten Sintang, meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUD Sintang setelah ambulans yang membawanya terjebak dalam jalan berlumpur selama lebih dari empat jam.
Korban sebelumnya mengalami cedera parah akibat tertimpa pohon saat melakukan penebangan kayu, dan dirujuk untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Namun nahas, kendaraan ambulans yang membawa Rahmudi terperosok ke dalam jalan yang amblas dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, meskipun warga sekitar telah berupaya menariknya dengan alat bantu seadanya.
Fakta-fakta Tragis di Lapangan:
- Akses jalan menuju fasilitas kesehatan sangat memprihatinkan
- Proses evakuasi terkendala oleh cuaca ekstrem dan kondisi jalan yang rusak parah
- Ambulans tidak dapat keluar dari kubangan lumpur meski telah dibantu warga secara manual
Kejadian ini mengundang sorotan tajam dari publik. Betapa tidak, peristiwa ini terjadi di Kalimantan Barat, sebuah provinsi yang dikenal kaya sumber daya alam, khususnya tambang emas. Tercatat lebih dari 600 perusahaan tambang beroperasi di wilayah ini. Namun, kontribusi sektor tambang terhadap pembangunan dasar dan kesejahteraan masyarakat dinilai masih sangat minim.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat dalam pernyataannya menyebut bahwa daerahnya terus mengalami ironi pembangunan:
“Kekayaan alam Kalbar terus digali dan diangkut keluar daerah, tapi rakyat kami masih berkubang dalam penderitaan akibat jalan rusak dan minimnya fasilitas dasar.”
Peristiwa ini memicu kembali tuntutan lama masyarakat terhadap prioritas pembangunan infrastruktur di daerah terpencil, khususnya jalan penghubung antar desa dan akses darurat menuju rumah sakit. Di sejumlah titik di pedalaman Kalbar, jalan tanah masih menjadi satu-satunya akses vital, yang dengan mudah berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan turun.
[RED]













