BANDUNG, 20 Juli 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, angkat suara terkait insiden tragis yang terjadi saat acara pesta rakyat di Kabupaten Garut pada Jumat, 18 Juli 2025, yang menewaskan tiga orang warga. Dedi menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya agenda kegiatan pada siang hari, dan menegaskan bahwa acara yang tercatat dalam jadwal resmi hanya berupa pementasan seni malam hari di ruang terbuka.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Gubernur saat ditemui awak media usai mengikuti Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, pada Sabtu (19/7/2025).
“Dalam jadwal yang saya terima dan yang saya unggah melalui akun media sosial resmi saya, kegiatan pesta rakyat tersebut direncanakan berlangsung pada Jumat malam pukul 19.00 WIB. Acara tersebut dikemas sebagai pagelaran seni budaya yang digelar di lapangan terbuka, dan bukan pada siang hari,” ujar Dedi Mulyadi kepada wartawan.
Ia juga menambahkan bahwa informasi tentang acara tersebut telah disampaikan melalui video unggahan di kanal YouTube pribadinya, di mana disebutkan bahwa pertunjukan seni malam hari akan dimeriahkan oleh sejumlah artis lokal seperti Ceu Popon, Ohang, dan Kiwil.
“Sudah saya sampaikan secara terbuka. Ada dokumentasinya di YouTube. Acara jam 7 malam, bukan jam 1 siang. Yang siang itu tidak tercantum dalam rundown atau agenda kegiatan yang saya miliki,” tambahnya.
Sebelumnya, pada hari kejadian yang menelan korban jiwa, Dedi sempat memberikan pernyataan awal bahwa dirinya tidak mengetahui adanya kegiatan makan bersama gratis dalam rangka syukuran pernikahan putranya, Maula Akbar, dengan Luthfianisa Putri Karlina, yang merupakan Wakil Bupati Garut.
Namun, pernyataan terbarunya menunjukkan bahwa dirinya mengetahui adanya acara, tetapi sebatas pementasan kesenian untuk masyarakat yang telah dijadwalkan pada malam hari, dan bukan kegiatan di siang hari yang kemudian memicu kerumunan massa dan berakhir dengan insiden fatal.
Peristiwa tragis tersebut menimbulkan tiga korban meninggal dunia akibat desak-desakan warga yang menghadiri acara. Hingga saat ini, aparat kepolisian dari Polres Garut dan Polda Jabar masih melakukan investigasi menyeluruh, termasuk memeriksa panitia pelaksana, pihak hotel, serta saksi-saksi di lapangan untuk mengetahui struktur kepanitiaan, prosedur keamanan, dan siapa yang bertanggung jawab atas perubahan waktu kegiatan.
[RED]













