Jakarta, 5 Juli 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi sasaran serangan siber skala besar dalam dua minggu terakhir. Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa sistem keamanan digital institusinya menerima lebih dari 2,5 miliar upaya serangan siber selama kurun waktu 14 hari.
Hal tersebut diungkapkan Purbaya dalam sesi Temu Media yang digelar di kantor pusat LPS, pada Jumat (4 Juli 2025). Ia mengaku heran dengan skala serangan yang luar biasa masif terhadap lembaga yang memiliki fungsi utama menjamin simpanan nasabah perbankan ini.
“Dalam dua minggu terakhir, tercatat lebih dari dua setengah miliar serangan siber diarahkan ke sistem LPS. Saya sendiri bingung, kenapa yang diserang LPS? Bukankah kalau niat menyerang, target seperti BI lebih terkenal?” ungkapnya.
Lebih lanjut, Purbaya menyebutkan adanya dugaan bahwa serangan ini bisa jadi berkaitan dengan proses seleksi dan pendaftaran Calon Ketua dan Anggota Dewan Komisioner LPS yang tengah berlangsung. Ia tidak menuduh secara langsung, namun menyampaikan bahwa momentum serangan siber ini bertepatan dengan proses penting dalam tubuh organisasi.
“Ada yang menduga ini berkaitan dengan proses suksesi di LPS. Tapi kami tidak berspekulasi. Yang jelas, kami tetap waspada dan memperkuat sistem pertahanan kami,” ujar Purbaya.
Sebagai lembaga yang memiliki peran strategis dalam menjamin kestabilan sistem keuangan nasional, LPS mengelola data-data penting terkait simpanan nasabah serta skema penyelamatan bank bermasalah. Oleh karena itu, Purbaya memastikan bahwa infrastruktur keamanan siber LPS terus diperkuat, dengan melibatkan kolaborasi multi-pihak termasuk dengan lembaga intelijen siber nasional dan kementerian terkait.
“Kami sudah bekerja sama dengan mitra strategis, baik di sektor pemerintahan maupun swasta, untuk menangkal berbagai bentuk ancaman digital. Semua protokol keamanan sedang dalam mode siaga tinggi,” tegasnya.
Jumlah serangan yang mencapai miliaran kali dalam waktu singkat mencerminkan tingkat ancaman dunia maya yang kian meningkat terhadap lembaga-lembaga negara. Para pakar keamanan siber memperingatkan bahwa intensitas serangan ini berpotensi menjadi sinyal adanya agenda tersembunyi, baik dari pelaku dalam negeri maupun aktor luar.
[RED]













