Sukabumi, 23 Juni 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Bencana banjir yang melanda wilayah Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, pada bulan Maret 2025 lalu, menyebabkan kerusakan infrastruktur serius, termasuk ambruknya jembatan penghubung di Kampung Leuwi Sintok, RT 34 RW 11, Desa Bantaragung.
Jembatan tersebut, yang dibangun menggunakan anggaran Dana Desa (DD) pada periode tahun 2012 hingga 2013, sebelumnya berfungsi sebagai akses vital bagi warga menuju Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, serta menghubungkan langsung ke ruas jalan provinsi dengan jarak sekitar 3 kilometer.
Ketua RW 11, Saeful Anwar (34), mengonfirmasi bahwa akibat jembatan putus, sebanyak 52 kepala keluarga (KK) dengan total 147 jiwa di Kampung Leuwi Sintok mengalami keterisolasian total selama tujuh hari.
“Selama satu minggu penuh, seluruh aktivitas masyarakat benar-benar terhenti. Warga tidak bisa pergi ke pasar, mengantar anak ke sekolah, ataupun mengakses fasilitas kesehatan. Bahkan ada warga yang nekat menyeberangi sungai hanya demi membeli kebutuhan pokok ke Desa Tegallega, meskipun sempat terseret arus deras,” ungkap Saeful saat diwawancarai oleh sukabumiupdate.com, Senin (23/6/2025).
Akses alternatif melalui jalur Cimuncang–Ciseeng di Desa Bojongjengkol sejauh 10 kilometer, dianggap sangat tidak layak karena medan yang berat—terjal, berbatu, serta berlumpur licin—sehingga menyulitkan warga, khususnya lansia dan anak-anak.
Sebagai bentuk respons mandiri terhadap kondisi darurat tersebut, warga secara swadaya akhirnya membangun jembatan sementara berbahan bambu sepanjang 20 meter. Meski bersifat darurat, infrastruktur sederhana ini mulai memulihkan sebagian aktivitas harian masyarakat, seperti anak-anak kembali sekolah dan warga bisa mengakses kebutuhan dasar.
Pihak pemerintah desa, kecamatan, hingga instansi terkait diharapkan segera melakukan penanganan permanen atas jembatan yang rusak, mengingat pentingnya fungsi jalur tersebut sebagai urat nadi perekonomian dan mobilitas warga antarwilayah.
[RED]













