JAKARTA, 18 JUNI 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi Teknologi, Dr. Stella Christie, menyampaikan pernyataan tegas dan penuh makna di hadapan ratusan penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM), Beasiswa Garuda, dan program pembiayaan pendidikan unggulan lainnya dalam sesi pembekalan nasional di Jakarta.
Dalam sambutannya, Wamen Stella mengingatkan bahwa beasiswa yang diberikan oleh negara bukanlah sekadar bantuan sosial atau hadiah pendidikan, melainkan merupakan bentuk investasi jangka panjang yang bersumber dari dana publik, khususnya dari pajak rakyat Indonesia.
“Beasiswa ini adalah bentuk utang moril kepada bangsa. Tidak akan ditagih dengan uang, tetapi akan dimintai balasan dalam bentuk kontribusi konkret. Ini hutang yang nyata, dan suatu saat akan ditagih kembali oleh negara dalam bentuk pengabdian dan kerja nyata untuk kemajuan Indonesia,” tegasnya, Selasa (17/6/2025).
BEASISWA = TANGGUNG JAWAB NASIONAL
Pernyataan Wamen tersebut ditujukan untuk menanamkan kesadaran kolektif kepada seluruh peserta program beasiswa bahwa hak istimewa mendapatkan pendidikan berkualitas, baik di dalam maupun luar negeri, bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan titik awal dari amanat besar yang harus dipikul.
Menurut Stella, setiap penerima beasiswa negara harus memahami bahwa dirinya telah dipercaya untuk menjadi bagian dari kelompok terpilih yang akan membawa Indonesia ke arah lebih maju. Oleh karena itu, mereka berkewajiban untuk mendedikasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh untuk kepentingan bangsa dan masyarakat luas.
“Kalian adalah perwakilan Indonesia di mata dunia. Kalian membawa nama baik negara ini, dan wajib menjaga integritas, serta menebar ilmu untuk membangun negeri. Berbagilah pengetahuan, bimbing adik tingkatmu, dan kembalilah menjadi agen perubahan di tanah air,” ungkapnya penuh semangat.
PANGGILAN UNTUK MEMBAYAR “HUTANG PUBLIK”
Dalam forum pembekalan tersebut, Wamen Diktisaintek juga mengajak para penerima beasiswa untuk membuat komitmen pribadi, sebagai bentuk kesiapan membayar “utang rakyat” melalui kontribusi nyata. Komitmen ini tidak harus berupa kerja dalam institusi formal, tetapi bisa dalam berbagai bentuk seperti riset aplikatif, inovasi teknologi, pengabdian masyarakat, hingga pemberdayaan komunitas lokal.
“Ini bukan tentang membayar dengan angka. Ini tentang kembali dengan hasil. Negara memberi kalian peluang emas. Maka pulanglah dengan karya yang berdampak luas.”
[RED]













