JAKARTA, 9 Maret 2026 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026) . Pelemahan mata uang nasional tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS yang dipicu oleh beredarnya harga minyak mentah dunia yang melampaui US$100 per barel .
Berdasarkan data Bloomberg , rupiah dibuka pada level Rp17.019 per dolar AS , atau melemah sekitar 0,56 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada Jumat (6/3/2026) .
Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara terpisah, melainkan sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang turut mempengaruhi sentimen global akibat kenaikan harga energi.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pasar saham domestik . Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan tajam sebesar 3,33 persen hingga berada di level 7.332 pada awal perdagangan hari yang sama.
Penurunan IHSG juga terjadi seiring pelemahan bursa saham di kawasan Asia lainnya. Salah satunya adalah indeks KOSPI di Korea Selatan , yang bahkan sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) setelah mengalami penurunan signifikan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong , menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar global.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS akibat sentimen risk-off yang memburuk, dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah yang mencapai lebih dari US$100 per barel ,” ujar Lukman Leong kepada Katadata.co.id , Senin (9/3/2026).
Lonjakan harga minyak mentah tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas perekonomian global , karena berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi, harga energi, serta inflasi di berbagai negara .
Sementara itu, analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana , menilai bahwa eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Menurutnya, meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah telah menciptakan tingginya pasar keuangan global , yang kemudian memicu penguatan dolar AS serta tekanan terhadap berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Para pelaku pasar kini memperhitungkan perkembangan situasi geopolitik dan pergerakan harga komoditas global yang berpotensi mempengaruhi stabilitas pasar keuangan, nilai tukar mata uang, serta kinerja bursa saham dalam waktu dekat .
[RED]













