DUGAAN KEMATIAN TIDAK WAJAR LETTU TNI AU: TOKOH ADAT HINDU DAN KELUARGA DESAK TRANSPARANSI PENEGAKAN HUKUM

DUGAAN KEMATIAN TIDAK WAJAR LETTU TNI AU: TOKOH ADAT HINDU DAN KELUARGA DESAK TRANSPARANSI PENEGAKAN HUKUM
banner 120x600

Mataram, 15 Juni 2025 — RESKRIMPOLDA.NEWS

Sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama Hindu dari Bali dan Lombok menyuarakan keprihatinan serta desakan keadilan atas meninggalnya seorang perwira TNI Angkatan Udara asal Nusa Tenggara Barat, Lettu Kes Ida Bagus Dody, yang wafat secara misterius saat bertugas di Lanud Soewondo, Medan. Dugaan awal menyebut perwira tersebut melakukan tindakan bunuh diri, namun temuan medis terbaru justru mengindikasikan adanya unsur kekerasan.

crossorigin="anonymous">

Salah satu tokoh adat terkemuka dari Puri Agung Pamotan, Anak Agung Made Jelantik, bersama sejumlah tokoh Hindu lainnya di NTB dan Bali, mengunjungi keluarga almarhum sebagai bentuk solidaritas sekaligus dukungan moril untuk mencari kebenaran. Dalam pernyataannya, AA Made Jelantik menyatakan bahwa pihak keluarga memiliki keraguan mendalam terhadap keterangan resmi yang menyebut almarhum meninggal karena gantung diri.

Hasil Autopsi Ungkap Fakta Berbeda
Berdasarkan laporan autopsi yang dilakukan RSUD Provinsi NTB, ditemukan bahwa penyebab kematian Lettu Dody adalah luka akibat benturan benda tumpul, bukan karena jeratan gantungan. Tim forensik menemukan adanya memar, lecet, dan tanda-tanda perlawanan fisik, yang secara medis mengindikasikan adanya kekerasan sebelum kematian terjadi.

Keluarga Merasa Diabaikan, Barang Bukti Hilang
Pihak keluarga mengungkapkan kekecewaan mendalam karena hingga kini belum pernah dimintai keterangan secara resmi oleh pihak penyidik dari Satpom Lanud Soewondo Medan. Bahkan, sejumlah barang bukti penting seperti pakaian terakhir yang dikenakan almarhum dilaporkan hilang secara tidak jelas. Lebih memprihatinkan lagi, status kematian yang masih dicatat sebagai bunuh diri mengakibatkan istri almarhum belum memperoleh hak-haknya sebagai istri prajurit TNI aktif.

Desakan Evaluasi dan Intervensi KASAU
Menyikapi kejanggalan dalam penanganan perkara, tokoh hukum adat dan akademisi, Dr. I Gusti Putu Ekadana, SH., MH., turut menyampaikan kritik tajam terhadap proses investigasi yang dinilai tidak profesional dan minim transparansi. Ia menegaskan bahwa penyelidikan yang dilakukan oleh Satuan Polisi Militer (Satpom) Lanud Soewondo terkesan tidak terstruktur dan tidak berpijak pada asas keadilan.

“Kami mendesak Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) segera mengambil alih penyelidikan secara langsung agar proses hukum berjalan objektif dan tidak menimbulkan preseden buruk dalam institusi militer,” ujar Ekadana dalam pernyataannya.

Solidaritas Tokoh Agama dan Masyarakat Sipil
AA Made Jelantik mengajak seluruh tokoh Hindu di wilayah Bali, Lombok, dan Nusra untuk bersatu menyuarakan dukungan terhadap keluarga korban. Ia menekankan pentingnya dukungan moral, sosial, dan hukum agar keluarga almarhum memperoleh keadilan yang layak dan hak-hak istri prajurit tidak terabaikan karena status hukum yang belum jelas.

[RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0