Indramayu, 2 Juni 2025 — RESKRIMPOLDA.NEWS
Petani di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, tengah berada di persimpangan jalan antara tradisi dan modernitas.
Di tengah semangat pemerintah yang gencar menggaungkan ketahanan pangan nasional, para petani justru menghadapi tantangan pelik konflik horizontal antara petani penggarap dan buruh tani, serta persoalan infrastruktur desa yang belum optimal menopang mekanisasi pertanian modern.
Di antara teknologi yang kini mulai masuk ke desa-desa adalah mesin combien harvester, alat pemanen modern yang mampu mempersingkat waktu panen dan meningkatkan efisiensi hasil.
Banyak petani penggarap menyambut baik kehadiran mesin ini.
“Dengan adanya combien harvester, kami merasa senang. Hasil panen dihargai lebih tinggi, dan kami tak perlu khawatir lagi soal cuaca yang tidak menentu,” ujar Casyanto (Opil) selaku KTNA Kecamatan Losarang.
Kehadiran mesin combien harvester memang membawa angin segar. Petani mengakui bahwa alat ini memungkinkan pemanenan yang cepat, bahkan dalam kondisi cuaca ekstrem.
Mereka tak perlu lagi cemas akan hasil panen yang rusak akibat hujan tiba-tiba.
“Kalau pakai cara manual, panen bisa gagal kalau saat hujan turun setelah padi dipotong. Sementara proses pengeringan pakai blower atau grabag bisa makan waktu sehari per hektare,” jelasnya
Selain itu, biaya panen dengan mesin ini pun lebih murah dibanding metode tradisional.
Namun, kemajuan ini tak datang tanpa gesekan. Seiring meningkatnya penggunaan mesin panen, muncul kekhawatiran dari kalangan buruh tani mereka yang selama ini menggantungkan hidup dari upah memanen secara manual.
Konflik antara petani penggarap dan buruh tani pun mulai mencuat di beberapa titik.
“Buruh tani khawatir kehilangan pendapatan, padahal panen adalah musim yang paling mereka tunggu,” ujar Casyanto Ketua KTNA Losarang dalam sebuah pernyataan. Tertulis pada Minggu 1 Juni 2025
Sebagai upaya menghindari konflik yang berlarut, Ketua KTNA Losarang mengusulkan skema bagi hasil atau sistem catu dalam penggunaan mesin combien harvester.
“Dengan sistem ini, buruh tani tetap mendapatkan bagian dari hasil panen meskipun tidak terlibat langsung dalam pemanenan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan kolektif yang adil dan inklusif agar semua pihak tetap sejahtera.
Di sisi lain, ketiadaan akses jalan yang memadai menuju lahan pertanian menjadi hambatan tersendiri dalam mobilisasi mesin-mesin pertanian modern.
Jalan desa yang sempit dan berlumpur saat musim hujan menyulitkan armada pertanian masuk ke ladang. Pemerintah desa dan Kabupaten diminta turun tangan untuk memperbaiki infrastruktur dasar demi mendukung percepatan modernisasi pertanian.
Ketua KTNA Losarang juga mendorong agar pemerintah daerah bersama Gapoktan dan Poktan melakukan sosialisasi menyeluruh terkait penggunaan mesin combien.
“Semua petani harus diberi pemahaman, agar tidak ada lagi kesalahpahaman atau kecemburuan sosial. Ini penting demi menjaga stabilitas sosial dan pangan di Losarang,” tegasnya.
Mengingat peran vital petani dalam menjaga ketahanan pangan nasional, KTNA Losarang berharap pengadaan dan pemanfaatan mesin combien harvester dapat dikawal bersama oleh masyarakat dan pemerintah.
“Jangan sampai alat yang membawa harapan malah jadi sumber perpecahan. Kita harus mengedepankan musyawarah demi menjaga keharmonisan dan keamanan wilayah,” tutupnya.
[NONO]













