google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Bahan Baku, Harga Plastik di Indonesia Melonjak hingga 150 Persen

banner 120x600

JAKARTA, 6 April 2026 – RESKRIMPOLDA.NEWS

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berujung pada blokade Selat Hormuz mulai berdampak signifikan terhadap sektor industri di Indonesia. Salah satu yang paling terdampak adalah industri plastik, menyusul terganggunya pasokan naphtha, bahan baku utama turunan minyak bumi.

crossorigin="anonymous">

Kondisi tersebut menyebabkan kelangkaan bahan baku di dalam negeri, yang kemudian mendorong lonjakan harga plastik secara drastis. Dalam beberapa waktu terakhir, harga plastik dilaporkan melonjak antara 50 hingga 150 persen, memicu tekanan besar bagi pelaku usaha, terutama di sektor perdagangan tradisional.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini sangat dirasakan oleh para pedagang di pasar rakyat.

“Kenaikan harga plastik saat ini sangat memberatkan pedagang. Lonjakannya tidak wajar, bisa mencapai 50 sampai 150 persen,” ujarnya.

Menurutnya, plastik merupakan komponen penting dalam aktivitas perdagangan sehari-hari, mulai dari kemasan hingga distribusi barang. Lonjakan harga ini secara langsung meningkatkan biaya operasional pedagang, yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga jual kepada konsumen.

Situasi ini juga menempatkan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) pada posisi sulit, karena mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau menanggung beban biaya tambahan yang dapat menggerus keuntungan.

Para pelaku usaha berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis, termasuk mencari alternatif sumber bahan baku serta menjaga stabilitas harga, guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap perekonomian nasional.

Gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik ini kembali menunjukkan tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap impor bahan baku, sekaligus menjadi tantangan serius bagi ketahanan industri nasional.

[RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0