Solo, 2 Maret 2026 – RESKRIMPOLDA.NEWS
Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan laporan dugaan praktik markup harga bahan baku serta penggunaan bahan pangan berkualitas rendah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Solo Raya yang diikuti 933 kepala SPPG , pengawas keuangan, dan pengawas gizi dari wilayah Surakarta, Boyolali, Sragen, dan Karanganyar.
Dalam forum tersebut, BGN mengungkap adanya indikasi pembelian bahan baku di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) serta dugaan penggunaan komoditas yang tidak memenuhi standar kualitas gizi yang telah ditetapkan. Praktik tersebut dinilai merugikan keuangan negara sekaligus mengurangi kualitas layanan gizi bagi penerima manfaat program.
Kepala SPPG diingatkan secara tegas mengenai konsekuensi hukum apabila dalam audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditemukan indikasi penggelembungan harga, manipulasi anggaran, atau kolaborasi dengan mitra usaha yang tidak mematuhi aturan.
Selain potensi jeratan pidana, BGN juga menetapkan sanksi administratif berupa skorsing atau penguatan kerja sama bagi mitra yang terbukti melakukan kondisi harga, membatasi jumlah pemasok, atau tidak menjalankan kewajiban sesuai ketentuan.
Sekadar informasi, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 , setiap dapur SPPG wajib melibatkan minimal 15 pemasok dengan prioritas pada petani, peternak, dan pelaku UMKM lokal . Kebijakan tersebut bertujuan memastikan distribusi ekonomi berjalan merata serta mencegah monopoli atau pengaturan harga oleh segelintir pihak.
Program MBG sendiri dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kualitas asupan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen penguatan ekonomi desa melalui pemberdayaan sektor pertanian, peternakan, dan usaha mikro.
BGN menegaskan komitmennya untuk memperketat pengawasan serta memastikan pelaksanaan program berjalan transparan, akuntabel, dan sesuai prinsip tata kelola yang baik, sehingga tujuan peningkatan gizi sekaligus penggerak ekonomi lokal dapat tercapai secara optimal.
[RED]













