google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0

20 GERAI PENJUALAN MOBIL LISTRIK BYD DI PROVINSI SHANDONG DITUTUP IMBAS GEJOLAK FINANSIAL MITRA UTAMA

20 GERAI PENJUALAN MOBIL LISTRIK BYD DI PROVINSI SHANDONG DITUTUP IMBAS GEJOLAK FINANSIAL MITRA UTAMA
banner 120x600

Shandong – Tiongkok, 8 Juni 2025 – RESKRIMPOLDA.NEWS

Sebanyak 20 pusat penjualan resmi (dealer) kendaraan listrik merek BYD di Provinsi Shandong, kawasan timur Republik Rakyat Tiongkok, resmi menghentikan operasionalnya. Langkah ini dipicu oleh krisis likuiditas yang tengah melanda salah satu mitra utama jaringan pemasaran BYD, yakni Qiancheng Holdings.

crossorigin="anonymous">

Penutupan massal ini menyebabkan lebih dari 1.000 konsumen terdampak secara langsung. Sebagian besar dari mereka masih memiliki hak atas layanan garansi serta fasilitas purnajual yang hingga kini belum ditunaikan oleh pihak terkait.

PELANGGAN MENGGALANG DUKUNGAN BERSAMA

Akibat ketidakpastian yang terjadi, para pelanggan tersebut kini tengah mengorganisasi diri dalam kelompok solidaritas. Tujuannya adalah memperjuangkan hak-hak mereka serta mencari jalur penyelesaian yang adil dan transparan.

Hingga berita ini dirilis, Qiancheng Holdings belum memberikan tanggapan resmi meski telah dimintai klarifikasi oleh sejumlah pihak media dan konsumen.

PROFIL QIANCHENG DAN KRONOLOGI MASALAH

Qiancheng Holdings dikenal sebagai salah satu perusahaan otomotif ternama di China dengan pendapatan tahunan diperkirakan mencapai 3 miliar yuan atau setara dengan Rp6,8 triliun. Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 1.200 tenaga kerja, serta memiliki peran strategis sebagai mitra distribusi kendaraan BYD di sejumlah wilayah utama.

Namun, pada tanggal 17 April 2025, Qiancheng mengedarkan surat resmi internal yang menyebutkan bahwa perubahan kebijakan distribusi dari pihak produsen BYD memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas keuangan perusahaan.

“Revisi sistem dealer yang diterapkan BYD telah mengganggu arus kas perusahaan secara substansial,” bunyi kutipan dalam surat yang bocor ke publik.

Perubahan kebijakan tersebut diduga berkaitan dengan skema baru yang diterapkan BYD dalam pengelolaan jaringan penjualannya, termasuk soal margin keuntungan, stok unit, dan sistem pelaporan.

DAMPAK SISTEMIK DAN POTENSI RISIKO INDUSTRI

Situasi ini memperlihatkan adanya kerentanan sistemik dalam kemitraan produsen dan jaringan dealer di sektor otomotif listrik. Jika tidak ditangani secara komprehensif, hal ini dapat meruntuhkan kepercayaan konsumen terhadap merek yang tengah naik daun seperti BYD, baik di pasar domestik maupun global.

Para pengamat ekonomi otomotif memperkirakan bahwa kasus ini bisa menjadi titik awal evaluasi ulang terhadap struktur kemitraan produsen kendaraan listrik dan model bisnis distribusi di masa depan.

[RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-8758608579724912, DIRECT, f08c47fec0942fa0